Sabtu, 07 September 2013

Never Late to Love Someone

Hidup terus saja berjalan. Pengalaman di masa lalu terkadang memang menyakitkan tapi dari menyakitkan itulah kita akan merasakan kebahagiaan. Tanpa rasa sakit kita tidak akan pernah mengalami proses bahagia.
Kalimat diatas memang cocok banget bagi seorang Fei. Seorang gadis cantik yang selalu berusaha terlihat tegar di depan banyak orang. Fei seorang siswi SMA yang berani mengambil keputusan untuk berpacaran dengan seorang pria yang usianya lebih tua lima tahun darinya. Seorang pria yang pada akhirnya menjadi alasan kesedihan Fei.
"Fei." panggilan itu membuat Fei menoleh ke arah suara tersebut.
"Ya?" sahut Fei menanggapi panggilan tersebut.
"Kamu masih sedih de?" Fei menatap pemilik suara tersebut dan tersenyum. Ka Bobby mengelus kepala Fei perlahan. "Udah ah de, hidup itu terus berjalan loh." tambah Bobby sambil menarik Fei kedalam rangkulannya.
"Iya ka, Fei tau kok. Fei masih gak nyangka aja ka. Ternyata semenyakitkan ini. Dede kecewa banget." ucap Fei dengan mata berkaca-kaca. Fei menyandarkan kepalanya di pundak Bobby.
"Kamu nyesel dengan semua yang udah terjadi? Nyesel udah kenal Vino? Nyesel membiarkan Nitha dekat dengan Vino?" tanya Bobby sambil membiarkan Fei bersandar pada pundaknya.
"Dede gak pernah nyesel ka mengenalkan mereka, bahkan dede gak pernah nyesel pernah menerima Vino dalam bagian hidup dede. Tapi kalau memang dari awal alasannya minta putus adalah Nitha mungkin dede bisa ngalah ka. Tapi apa? Dia selalu beralasan perbedaan yang gak mungkin menyatukan kita. Dede tau kok perbedaan kita berdua memang jauh tapi apa salahnya mencoba ka." jawab Fei. Tersirat kekecewaan dalam matanya. "Dede gak nyaka ka akan semenyakitkan ini." tambah Fei.
"De, relain ya. jangan terus-terusan terpuruk kayak gini. Kakak kehilangan dede kaka yang sebenarnya kalau kamu terus kayak gini. Sek sebentar kaka ambilin minum." Bobby meninggalkan Fei di ruang tamu.
Begitu Bobby meninggalkannya Fei tidak dapat lagi menahan air matanya. Ingatannya melayang pada kejadian malam itu. Fei mendapati sahabatnya tengah berlangkulan dengan kekasihnya, Vino. Fei tidak menyangka sahabatnya akan menjadi pengkhianat dalam hidupnya dan kekasih yang selalu ia perjuangkan menduakannya dengan sahabatnya sendiri. Delapan bulan yang ia jalani dengan vino berakhir sia-sia. Bahkan pengorbanan yang ia lakukan dibalas dengan ketidaksetiaan. Kekecewaannya bertambah dalam ketika dia mengetahui sahabat yang telah bersamanya selama 4 tahun ini menjadi pengkhianat dalam hidupnya. Wajah kedua orang itu terus bergantian memenuhi kepala Fei.
Bobby kembali dengan membawakan dua gelas teh manis. "Fei, jangan nangis lag dong. Apa sih yang kamu tangisin?" Bobby menghampiri Fei dan menyerahkan teh yang ia bawa.
Fei meneguk sedikit teh itu dan menaruhnya di meja. Fei menggeleng menjawab pertanyaan Bobby. "I'm fine ka." jawaban singkat itu terlontar dari bibir mungil Fei.
"Jangan bohong de!" ucapan itu terengar tegas. Bobby menatap Fei dan memegang pundaknya. "De, denger kaka. Lupakan semuanya. Lupain Vino, dia itu gak pantes buat adik kakak! Masih banyak cowok yang suka sama kamu yang lebih pantes buat milikin kamu tapi bukan dia. Kakak gak suka liat dede terus-terusan bersedih kayak gini!" Fei menatap Bobby lalu memeluknya.
"Kakak bener. Thanks ka." bisik Fei lemah. Fei melepaskan pelukkannya dan memberikan senyum terbaiknya.
***
Sejak hari itu Fei lebih sering menghabiskan waktu bersama Bobby. Ada suatu perbedaan dalam diri Bobby yang membuat Fei tidak ingin kehilangan kakak angkatnya ini. Bobby jauh lebih punya banyak waktu untuk dirinya sekarang. Fei merasa memiliki seseorang yang berarti. Perlahan kesedihannya menghilang dan Fei mulai bisa menerima kalau Vino bukanlah jodohnya.
"Fei udah makan?" tanya Bobby saat mereka keluar dari toko buku. Fei menggeleng.
"Belum ka."
"Makan yuk!" ajak Bobby sambil menarik tangan Fei lembut. Fei mengangguk mengiyakan ajakan Bobby.
Fei bahagia dengan perhatian Bobby, bahkan dia mungkin mulai menyukai Bobby melebih rasa sukanya kepada seorang kakak, tapi Fei segera menepis jauh-jauh perasaannya tersebut. Dia takut jika perasaan tersebut terus tumbuh itu akan membuat hubungannya dengan Bobby menjadi jauh dan retak.
Bobby mengajak Fei makan di sebuah rumah makan yang dekat dengan rumah Fei di kawasan Gading Serpong. "Mau makan apa de?" tanya Bobby sambil membolak-balik buku menu.
"Dede mau nasi goreng sama es teh manis." jawab Fei cepat.
"Oke." Bobby memanggil pelayan untuk memesan makanan mereka berdua. Setelah pelayan meninggalkan meja mereka Bobby menyadari kalau Fei sedang melamun. Bobby memerhatikan adik angkatnya itu, dia tau masih ada wajah Vino dalam benak Fei. Sudah hampir sebulan sejak hari dimana Vina ketauan berselingkuh dengan Nitha tapi Fei masih saja terus memikirkan Vino. Hal ini sebenarnya cukup menyakitkan bagi Bobby yang menyimpan rasa yang terlalu besar bagi Fei melebihi rasa sayangnya kepada seorang adik. Tapi Bobby sadar Fei hanya menganggapnya seorang kakak dan tidak lebih.
Fei yang sadar dengan keheningan yang ia ciptakan mulai angkat suara. "Ka, Thank you so much ya." Bobby menatap Fei heran.
"Thanks for what?" tanya Bobby.
"Karena kakak selalu punya waktu buat Fei." jawaban singkat itu sekaligus mengembangkan senyum manis di bibir munggil Fei. Senyum tulus yang dirindukan Bobby.
***
Rumah Fei yang sepi selalu diramaikan dengan kehadiran Bobby. Fei tidak menolak kehadiran kakak angkatnya walau dia tau hal ini akan membuat perasaannya semakin dalam. Tapi tidak bisa dipungkiri Fei tetap menginginkannya. Menginginkan kehadiran Bobby dalam rumahnya.
"Fei, jangan lupa ya besok kakak jemput kamu jam 6 dan kamu udah harus siap." ucap Bobby sambil mengelus kepala Fei. Hanya anggukan kepala yang Fei berikan sebagai jawaban. Sebersit rasa takut kehilangan menghinggapi Fei sejak pagi tadi. Bobby akan mengenalkannya dengan seseorang.
"Kak, siapa sih yang mau kaka kenalin ke dede?" tanya Fei.
"Seseorang de." jawab Bobby singkat.
"Iyalah ya kakak mau ngenalin dede sama orang masa iya sama monyet." ujar Fei sambil tertawa, Bobby mengacak-acak rambut Fei dan ikut tertawa.
"Bisa aja kamu."
***
Sore ini Bobby mengajak Fei bertemu dengan seorang cewek yang dikelihatannya lebih muda dari dirinya yang dikenal Fei sebagai adik kelasnya yang terkenal pendiam di sekolah SMPnya dulu, Athena.
Sekarang Athena tepat duduk dihadapan Fei. Fei memerhatikan adik kelasnya itu. "Kak, dia yang mau kakak kenalin ke aku?" tanya Fei tidak melepaskan pandangannya dari Athena.
"Iya de. Kaka sama Athena udah resmi pacaran dua hari yang lalu. Kakak mau kenalin dia ke kamu, makanya hari ini kakak sengaja ngajak kalian berdua kesini." jawaban Bobby seakan menjadi petir yang menyambar Fei. Petir yang menyadarkannya dari kebodohannya.
"Ka aku ke toilet dulu ya." pamit Fei setenang mungkin, dia tidak ingin Bobby mengetahui perasaannya saat ini. Dia gak mau menjadi perusak hubungan orang lain karena dia tau hal itu akan menyakitkan. Fei meninggalkan Athena dan Bobby dengan mata berkaca-kaca seakan semuanya telah berakhir hari ini, kegelisahannya, kecemasannya, ketakutannya sekarang telah terjawab dengan hadirnya Athena malam ini. Dia akan kehilangan Bobby. Tapi egois jika Fei hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaan Bobby. Bobby punya hak untuk melanjutkan hidupnya. Fei meyakinkan dirinya sendiri kalau Bobby akan tetap menjadi kakak yang tidak akan meninggalkan adiknya.
Fei mencuci mukanya untuk menyamarkan matanya yang sempat berkaca-kaca. Fei kembali dengan wajah yang sedikit dipaksakan untuk ceria.
"Thena, SMA dimana sekarang?" tanay Fei berusaha membuat suasana lebih tenang.
"Di SMAN 5 ka. Kakak sendiri sekarang kuliah dimana?" Athena balik bertanya.
"Aku di UGM sekarang." jawab Fei singkat.
"Oh. By the way kakak kenal sama ka Bobby?" ada nada cemburu dalam pertanyaan Athena. Fei mengangguk menanggapi pertanyaan Athena.
"He is my brother, bukan kakak kandung memang. Kakak angkat." Athena memerhatikan Fei seakan memerhatikan seorang saingan, sadar dirinya diperhatikan Fei bangkit berdiri berniat meninggalkan tempat itu agar suasana sedikit terkendali. Lagipula hatinya panas.
"Kak, Fei duluan ya." pamit Fei sopan. Bobby menarik tangan Fei yang hendak akan pergi.
"Kamu mau kemana?" tanya Bobby.
"Pulang ka." jawab Fei apa adanya. Fei hanya tidak ingin dibilang menjadi pengganggu dia juga tidak ingin terus merasakan penyesalan atas kebodohannya. Mungkin jaga jarak adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
"Kamu pulang sama kakak!" sahut Bobby tegas. Fei menatap Bobby dan Athena bergantian."Duduk de." Fei menuruti perintah Bobby dia kembali duduk dikursinya.
"Thena udah makan?" tanya Bobby lembut, Athena hanya menggeleng. "Ya udah sekarang kita makan dulu. Kamu mau pesen apa?" tanya Bobby masih dengan nada yang lembut. Fei memalingkan wajahnya dan mulai sibuk dengan handphone di genggaman tangannya.
"Aku mau salad aja." jawab Athena singkat.
"De kamu mau makan apa?" kali ini Bobby bertanya kepada Fei sambil menatapnya, sebagai jawaban Fei menggeleng.
"Dede gak makan ka."
"Kenapa?"
"Masih kenyang." Bobby kesal mendengar jawaban Fei. Jelas-jelas seharian ini dia belum makan dan sekarang dia menolak makan malam dengan alasan masih kenyang.
"Makan apa masih kenyang? Kamu kan belom makans seharian."
"Ka Fei mau makan berdua Thena?" tawaran Athena berhasil membuat Fei memalingkan wajahnya dari handphone yang sedari tadi ia mainkan.
"No, thanks tawarannya. Tapi aku masih kenyang." jawab Fei sambil memberikan senyum yang dipaksakan.
"Ya udah Na biarin aja." sahut Bobby.
***
Malam itu Fei pulang dengan Bobby, setelah mengantar Athena, Fei baru mau membuka suarannya.
"Ka, I want talk to you." ucap Fei sambil menatap Bobby. Bobby memberhentikan mobilnya dibahu jalan dan memerhatikan Fei.
"Ada apa?" tanya Bobby lembut.
"Boleh Fei jujur?" Bobby mengangguk mendengar jawaban Fei. "Sebenernya selama ini Dede suka sama kakak, bukan ka bukan cuma suka tapi dede sayang sama kakak. Bukan karena kakak adalah kakak angkatku tapi karena kakak adalah orang yang paling dede takuti akan meninggalkan dede. Tapi selama ini dede takut buat ngomong ke kakak karena dede berpikir kakak hanya menganggap dede seorang adik kecil yang membutuhkan sosok seorang kakak. Dan dede takut setelah dede jujur kakak akan menjauh dari dede. Tapi malam ini dede kayak disadarin dari kebodohan dede. tapi kakak tenang aja dede tau kok bagaimana dede menempatkan diri dede sekarang." perasaan yang Fei pendam selama ini akhirnya bisa dia ungkapkan walau dia tau semuanya akan percuam. Bobby sudah menjadi milik orang lain.
"De, sebenernya apa yang kamu rasain juga kaka rasain, tapi kakak sedih tiap kali ngeliat kamu ngelamun ngeliat kamu masih suka sedih karena mikirin Vino. Maafin kakak ya de tapi Thena lebih dulu ngungkapin perasaannya dan kakak hanya ingin mencoba dan menurut kakak gak ada yang salah dengan mencoba kan? Tapi dede perlu tau satu hal. Kakak sayang sama dede. Kalau memang jodoh gak kemana kok de." Bobby mengecup kening Fei dan memeluknya.
"Thanks ka. Dede juga sayang sama kakak." balas Fei.
"Ya udah tetap berlaku seperti biasa ya. Sekarang kita cari makan, kamu kan belum makan dari pagi." ajakan Bobby di setujui dengan senyum dan anggukan kepala Fei.
Ada sedikit kelegaan dalam diri Fei setelah dia berhasil mengungkapkan semuanya. Mungkin dia memang sudak terlambat untuk memiliki Bobby tapi dia yakin kalau memang jodoh suatu saat nani mereka bisa bersama. Sekarang Fei hanya berharap Bobby tidak berubah menjadi orang yang tidak ia kenal.
***
Sudah sebulan sejak kejadi malam itu. Bobby sudah jarang main ke rumah Fei. Fei memaklumi hal tersebut, Fei juga sudah mulai jarang berhubungan dengan Bobby baik melalui telpon ataupun pesan singkat.
Tok.... Tok.... Tok....
Ketukan pintu mengembangkan senyum dibibir Fei. "Pasti ka Bobby." pikir Fei senang. Fei membukakan pintu tersebut dan betapa kagetnya dia mendapati orang yang tak terduga sekarang berdiri di depannya. Senyum yang tadi mengembang kita perlahan-lahan memudar.
"Kamu? Ada apa datang kesini?" Fei tidak berhasil menyembunyikan wajah terkejutnya.
"Hai, apa kabar?" tanya orang tersbut dengan senyum canggung.
"Baik kok. Ada urusan apa dateng kesini?" Fei mengulang pertanyaan yang belum di jawab. Kehadiran orang ini berhasil membuka luka lama yang sidah mengering. Vino. Orang yang sempat mengkhianati cintanya sekarang kembali.
"Aku kangen kamu Fei." ucapan Vino seakan menjadi hantaman yang hebat bagi Fei. Seorang pengkhianat kembali datang dan mengatakan merindukan dirinya. Fei masih bungkam. Tidak tau apa yang harus ia katakan. Sebuah ingatan menyakitkan terekam jelas dikepalanya bagaikan rekaman pemutaran film yang terus ditayangkan berulang-ulang. "Punya waktu?" Fei hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan tersebut.
"Masuk Vin. Kita ngobrol di dalem aja." Fei mempersilakan Vino masuk. "Mau minum apa?" tanya Fei ketika Vino telah duduk di ruang tamu.
"Air putih aja." jawab Vino. Fei pergi meninggalkan mantannya itu mengambil 2 gelas air putih. Kurang dari lima menit Fei sudah kembali, dia menyerahkan segelas kepada Vino.
"Apa yang mau kamu bicarain?" tanya Fei to the point.
"Aku mau minta maaf sama kamu buat semua kesalahan aku. Aku khilaf Fei, aku nyesel. Aku sadar aku masih sayang sama kamu dan gak ada orang lain yang bisa gantiin kamu yang bisa sesabar kamu yang bisa ngertiin aku kayak kamu ngerti keadaan aku. Aku........ Aku mau ngajak kamu balikan, aku mau kita balikan Fei ngulang semuanya dari awal. Kamu mau kan?" pengakuan Vino membuat Fei bingung. Dia masih sayang sama Vino tapi dia sama sekali tidak pernah berpikir sejauh ini tidak pernah berpikir untuk balikan dengan Vino. Dia tidak pernah membayangkan di tenagh kebimbangannya menunggu Bobby, sang mantan akan datang kembali, tapi Fei tau keputusan apa yang terbaik bagi hidupnya dan inilah yang harus ia jalankan.
"Vin, aku munafik kalau aku bilang aku udah gak sayang sama kamu karena memang pada kenyataannya aku sayang sama kamu, dan aku udah maafin kamu jauh sebelum hari ini terjadi sebelum kamu minta maaf sama aku, tapi maaf Vin aku gak bisa kalau harus balikan. Aku takut semuanya bakalan terulang, kalau memang kamu sayang sama aku, kamu gak akan ngeduain aku nyelingkuhin aku sama sahabat aku sendiri, kamu gak akan khianatin cinta dan pengorbanan aku. Aku yakin kok suatu saat kamu bakalan ketemu sama cewek yang lebih baik dari aku. Maafin aku ya. I can't." semua perkataan Fei bagaikan tamparan hebat bagi Vino, bahkan Fei sendiri tidak percaya kalau dia mampu mengatakan semuanya. "Aku belum bisa jadi yang terbaik Vin buat kamu, karena aku udah gagal buat kamu bertahan sama aku, buat kamu gak berpaling dari aku." tambah Fei lagi.
"Aku ngerti Fei sama perasaan kamu, sama semua ketakutan kamu. Tapi apa gak ada kesempatan kedua buat aku?"  Fei menggeleng lemah menanggapinya.
"Maafin aku Vin. Aku sayang sama kamu tapi aku gak bisa. Lagi pula sekarang aku lagi menunggu seseorang." Vino terperangah mendengar perkatan Fei.
"Siapa cowok itu Fei?" tanya Vino perlahan.
"Kamu mengenal dia Vin. Dia bahkan selalu ada saat kamu mulai berubah dan menghindari aku. Orang yang tak pernah ku duga sebelumnya." Vino menghampiri Feu lalu memeluknya. Fei kaget dengan apa yang di lakukam Vino tapi sedetik kemudian Vino melepaskan pelukannya. Pelukan yang belum sempat Fei balas.
"Makasih Fei. Semoga kamu bahagia dengan orang itu. Thanks for the last hug too." ucapan terakhir Vino menjadi akhir pertemuan kedua mereka. Setelah Vino pergi Fei terduduk lunglai, tangisnya pecah tanpa suara, ari matanya terus menetes membasahi wajah cantiknya. Dari arah pintu, tanpa di sadari oleh siapapun Bobby tengah memerhatikan semua kejadiaan tadi, mendengarkan semua pembicaraan antara Vino dan Fei. Bobby menghampiri Fei dan memeluknya, memberikan pundaknya untuk Fei bersandar.
"Udah sayang jangan nangis lagi ada kakak disini."  Bobby mengelus kepala Fei lembut.
"Kakak denger semuanya?" tanya Fei sesenggukan. Bobby hanya mengangguk menanggapinya.
"Maafin kakak ya, kakak sayang sama Fei." Bobby semakin erat memeluk gadis cantik di sebelahnya.
"Gak apa ka. Gimana kabar Thena ka?" Pertanyaan Fei mebuat Bobby perlahan melepaskan pelukannya.
"Kakak sama Thena udah putus dua minggu yang lalu. Kakak sadar cinta tidak bisa dipaksakan. Kakak gak sayang sama Thena kalau kakak masih terus melanjutkan itu malah akan menyakitinya. Kakak hanya kasian dan mengharai usahanya yang udah mau jujur sama kakak soal perasaannya." ucapan Bobby seakan menyadarkan Fei dari kebodohannya dulu.
"Athena pasti kecewa dan sedih dengan sikap kakak."
"Gak kok de. Dia yang minta kakak buat jujur sama perasaan kakak dan kakak juga udah minta maaf sama dia." Fei sedikit lega mendengar ucapan Bobby. "Fei, kakak gak mau mengulangi kesalahan lagi, kakak gak mau ada penyesalan untuk yang ke dua kalinya. Kakak sayang sama Fei, kakak gak mau kehilangan kamu lagi." pernyataan itu membuat Fei terperangah. "Fei, would you be my girlfriend?" tanya Bobby sambil mengeluarkan cheese cake bertuliskan "GIRLFRIEND?". Fei terkejut dengan semua yang Bobby lakukan. Fei menerima cake itu dan mengangguk. "Yes!" wajahnya memerah, Fei memalingkan wajahnya dan meletakan cake tersebut lalu berhambur kedalam pelukkan Bobby.
"I Love You ka Bobby." bisik Fei lembut tepat di telinga Bobby.
"Love You too, dear." balas Bobby masih dengan berbisik.
Fei sadar cinta tidak mengenal kata terlambat tapi hanya saja ada proses yang harus dilalui. Rasa sakit mengajarkan kita untuk bahagia. Penyesalan, kesalahan, keterlambatan adalah tiga hal yang membuat kita menajdi seseorang yang lebih dewasa.
Pengalam dan masa lalu mengajarkan kita untuk bahagia di masa depan. Fei sadar cinta sesungguhnya tidak pernah terlambat. Tidak ada kata terlambat untuk saling mencintai dan sekarang Fei mengerti keterpurukan masa lalu hanya akan membuatnya menutup pintu kebahagiaan menuju masa depan yang telah Tuhan siapkan.
Bagaimana kita bisa melihat masa depan kalau kita masih terlalu sibuk mengurusi masa lalu kita?
Cinta tidak pernah terlambat hanya membutuhkan proses. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar