Inikah yang disebut cinta? Datang tanpa diketahui dan pergi dengan meninggalkan luka yang dalam? Inikah yang membuat semuanya berakhir? Inikah yang disebut cinta harus mengalah?
Pertemuan tanpa "salam", perpisahan tanpa "pamit". Jarak membuatku harus terus mengalah dan membiarkan mu pergi. Bukankah jarak tidak dapat disalahkan? Bukankah "kita" yang telah memilih untuk seperti ini? Tapi mengapa kita juga yang membatalkan pilihan itu?
Pertemuan tanpa "salam", perpisahan tanpa "pamit". Jarak membuatku harus terus mengalah dan membiarkan mu pergi. Bukankah jarak tidak dapat disalahkan? Bukankah "kita" yang telah memilih untuk seperti ini? Tapi mengapa kita juga yang membatalkan pilihan itu?
Kamu datang, menyita semua waktuku, mengambil alih semuanya, mengatur jam makanku, mengatur kemana aku harus pergi, menjadi dokter bagiku, menjadi sahabat yang paling baik, menjadi seorang kakak yang aku dambakan, menjadi ibu yang memberiku kasih, menjadi ayah yang menjagaku dan dalam waktu singkat aku sudah terbiasa dengan perhatianmu yang menurut banyak orang itu "berlebihan" tapi tidak bagiku. Aku merasa disayang di perhatikan di pedulikan olehmu. Inilah yang aku inginkan sampai detik ini.
Tapi dengan seribu langkah kau pergi. Tanpa pamit dan membiarkan ku menunggu mu dengan semua ketidakpastian. Bukankah kau datang juga tanpa salam? Apa sekarang harus juga pergi tanpa pamit? Aku rindu semua perhatianmu, ketika kamu menjadi ibuku, ketika kamu menjadi ayahku, ketika kamu menjadi kakakku, bahkan ketika kamu menempatkan dirimu sebagai sahabatku.
Beri aku satu kata agar aku melepasmu dengan sepenuhnya. Beri aku kata pamit walau hanya sekedar kata "BYE" itu saja sudah cukup. Aku tidak membutuhkan kata "HAI"mu lagi. Karena itu tandanya kau akan datang dan pergi.
Jarak membuat mataku tidak dapat melihatmu, membuat setiap jemariku tidak dapat menyentuh kelembutan wajahmu, membuat pikiranku selalu melayang jauh diatas batas. Aku mengawasimu dari jauh tapi aku tidak pernah tahu apakah kamu jujur atau kamu berbohong. Aku menutup mata dan menulikan telinga agar aku tidak berpikir negatif tetangmu.
Semua kepercayaan kuberikan kepadamu, semua perjuanganku aku lakukan untuk kebahagian "kita" yang aku tahu tidak mungkin pernah terjadi, tapi sekali lagi. Aku pura-pura tidak tahu. Aku berusaha menikmati kesemuan yang kau ciptakan dan kau benar-benar menikmati ketulusan yang aku ciptakan.
Aku masih ingat sewaktu kamu datang tanpa salam dan membuatku tak ingin melepasmu padahal aku tidak mengenalmu dan kamu tidak mengenalku. Tapi semua seakan mengalir bagai air, perlahan kau mulai memahami duniaku dan akupun begitu sebaliknya. Tapi hanya sebatas itu, semuanya tidak pernah berjalan lebih dari yang kita harapka.
Jarak memaksa kita untuk menyerah. Tapi pilihanku bertahan bukan menyerah, sayang pemikiran kita berbeda, ketika aku memilih bertahan kau memilih untuk menyerah.
Sudahlah semuanya sudah terjadi. Tidak akan ada lagi pertemuan kedua di antara kita. Pilihan mu untuk menyerah tidak salah ternyata karena mungkin sekarang "kita" sudah menemukan kebahagian dan ketulusan yang sesungguhnya yang tidak kita dapatkan satu sama lain ketika kita bersama.
Beri aku satu kata agar aku melepasmu dengan sepenuhnya. Beri aku kata pamit walau hanya sekedar kata "BYE" itu saja sudah cukup. Aku tidak membutuhkan kata "HAI"mu lagi. Karena itu tandanya kau akan datang dan pergi.
Jarak membuat mataku tidak dapat melihatmu, membuat setiap jemariku tidak dapat menyentuh kelembutan wajahmu, membuat pikiranku selalu melayang jauh diatas batas. Aku mengawasimu dari jauh tapi aku tidak pernah tahu apakah kamu jujur atau kamu berbohong. Aku menutup mata dan menulikan telinga agar aku tidak berpikir negatif tetangmu.
Semua kepercayaan kuberikan kepadamu, semua perjuanganku aku lakukan untuk kebahagian "kita" yang aku tahu tidak mungkin pernah terjadi, tapi sekali lagi. Aku pura-pura tidak tahu. Aku berusaha menikmati kesemuan yang kau ciptakan dan kau benar-benar menikmati ketulusan yang aku ciptakan.
Aku masih ingat sewaktu kamu datang tanpa salam dan membuatku tak ingin melepasmu padahal aku tidak mengenalmu dan kamu tidak mengenalku. Tapi semua seakan mengalir bagai air, perlahan kau mulai memahami duniaku dan akupun begitu sebaliknya. Tapi hanya sebatas itu, semuanya tidak pernah berjalan lebih dari yang kita harapka.
Jarak memaksa kita untuk menyerah. Tapi pilihanku bertahan bukan menyerah, sayang pemikiran kita berbeda, ketika aku memilih bertahan kau memilih untuk menyerah.
Sudahlah semuanya sudah terjadi. Tidak akan ada lagi pertemuan kedua di antara kita. Pilihan mu untuk menyerah tidak salah ternyata karena mungkin sekarang "kita" sudah menemukan kebahagian dan ketulusan yang sesungguhnya yang tidak kita dapatkan satu sama lain ketika kita bersama.
See you :*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar