Semua terjadi begitu cepat, terima kasih untuk "ilmu" yang telah kau berikan, terima kasih untuk "pengetahuan" yang telah kau ajarkan. Kau mengajarkanku banyak hal dengan semua tingkah lakumu yang membuat aku dan seluruh isi rumah ini jengah terhadapmu.
Kamu yang selalu mereka banggakan, kamu yang selalu menjadi sorotan dan kamu yang selalu menjadi contoh lenyap bagaikan ditelan bumi hanya karena kehadirannya, hanya karena kamu memiliki dia sekarang. Aku bingung mengapa kamu bisa begitu "bodoh". Mungkin iya aku memang seorang anak kecil yang belum bisa kamu bagi masalahmu, mungkin iya aku memang seorang bocah yang belum bisa berpikir dewasa, tapi siapa yang mengajari aku menjadi orang bermulut besar kalau kamu saja sudah tak bisa menjadi cotoh sebagai orang yang bisa memegang omongan.
Omonganmu bagaikan angin lalu bagiku, semua ucapanmu pun tak ada artinya lagi bagiku. Aku lelah, sangat lelah melihat semua tingkah lakumu. Sesempurna apakah dia? Sebaik apakah dia sampai kami seperti tidak memiliki nilai lagi dimatamu? Hey perlu kamu ingat, kami lebih mengenalmu ketimbang dia yang baru saja menemuimu beberapa bulan lalu. Kami lebih mengetahui kamu, karena kita saling mengenal sejak kecil, bukan? Aku percaya suatu saat kamu akan sadar ada banyak rintihan dan teriakan yang merindukan "kamu" yang dulu. Kamu yang bisa membedakan mana yang pantas di prioritaskan dan mana yang bukan prioritas.
Aku sadar mungkin dia akan menjadi bagian dalam hidupmu, mungkin dia salah satu alasan kamu selalu tersenyum, tapi dia juga bisa jadi salah satu sumber kemarahanmu. Manusia bukan Tuhan, dia manusia dan dia bukan Tuhan. Tidak ada manusia sempurna di muka bumi ini!
Aku lelah hadapi semua ini, gak ada sedikitpun kemurnian disini, aku merasa ini semua seperti rekayasa belaka, semua yang dia lakukan seakan nyata, tapi semua yang orang lain lakukan seakan semu. Semua yang dia lakukan selalu benar dan yang orang lain lakukan selalu salah. Sesempurna itukah dirinya?
Sadarlah banyak orang yang merindukan dan menyayangi dirimu dirumah ini. Semua orang engga untuk membuka suara karena semuanya lelah dengan sikapmu yang selalu merasa benar dan selalu berpikir bahwa apa yang kamu katakan, yang keluar dari ucapan mu itu selalu benar. Kamu lupa masih ada langit di atas langit, masih ada yang terhebat di atas hebat dan masih ada yang terbaik diatas baik.
Aku mungkin bukan dia karena memang aku bukan dia, aku adalah aku yang lebih mengenalmu dan lebih mengerti kamu ketimbang dia yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Beruntung saja di bertemu dengan mu dan seisi rumah ini.
Ingatkah semua berawal dengan baik-baik saja, itulah manusia. Begitu manis di awal tapi baru terlihat pahit begitu saling mengenal.
Kerinduan seorang adik